Kamis, 16 April 2015



UNTUKMU
YANG MENGAKU SEBAGAI CALON KONSELOR

(tak ada yang tahu apa yang terjadi di balik senyum ceria mereka kecuali mereka-mereka yang mau tahu dan mau peduli)

Aku tidak tahu harus memulai tulisan ini darimana,
Ini hanyalah ungkapan rasa dan pikiran setelah aku baru-baru ini magang di Balai Rehabilitasi Eks Penyalahguna NAPZA “Mandiri” Semarang II
Tulisan ini aku buat agar aku tak melupakan rasa dari setiap moment yang aku alami, agar selamanya berkesan di dalam hidupku dan mengingatkanku kembali akan rasa ini ketika aku lupa nanti..
Berada di Balai Rehab ini  + 45 hari mengajarkanku banyak hal dan menyadarkanku akan sesuatu, yang terpenting adalah ini “I’m a counselor and always like that forever”. Mencari sosok orang yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya ternyata tidak mudah. Mencari orang yang mau mendengarkan juga tidak mudah. Tak banyak orang yang mau berbuat seperti itu dengan setulus hatinya. Dan tak banyak orang yang menyadari bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati pasti akan sampai ke hati juga. Tak peduli seberapa keras hati orang yang kita tuju.
Penerima manfaat di balai rehab ini adalah anak-anak terluka. Korban dari orang tua yang hanya mampu menghadirkan mereka ke dunia ini tanpa menuntunnya untuk bisa melalui kehidupan ini dengan baik. Lahir. Selesai. Kehidupanmu silahkan jalani saja sendiri. Mungkin bisa diibaratkan begitu.
Satu hal yang paling membuatku terharu dan mengetuk ruang terdalam hatiku untuk selalu peduli dan berbuat lebih untuk mereka-mereka yang terluka dengan kehidupan ini adalah ketika proses konseling dengan salah satu penerima manfaat. Ia mengatakan bahwa balai rehab ini adalah tempat baginya untuk berlindung dari kejamnya kehidupan di luar sana. Ia datang ke balai rehab dengan keinginannya sendiri berdasarkan rekomendasi dari temannya. Ia, seorang anak berumur 15 tahun yang sudah melalui kerasnya kehidupan memasuki lingkaran setan semenjak kelas 2 SD. Berkenalan dengan minuman keras dari temannya di kelas 2 SD. Selanjutnya menikmati miras dan rokok bersama sang ayah.
Ayah. Yang seharusnya jadi sosok panutan, ternyata menjadi sosok penghancur kehidupan. Tidak cukup dengan merusak moral anak, ia pun selingkuh meninggalkan anak dan istri. Bahkan tak pernah sekalipun menafkahi keluarga. Kehidupan anak ini menjadi terluka, dengan tidak adanya kasih sayang, pencukupan kebutuhan, dan siksaan batin yang dialami anak ini karena setiap hari melihat sang ibu dipukuli dan ia pun kerap kali dipukuli sang ayah.
Dia. Yang tak tahu kemana harus mengadu dan kemana harus bergantung, karena tak sedikipun ia mengenal Tuhan. Lari dari rumah, menuju tempat dimana dia bisa diterima dengan membawa hati yang gersang dan luka. Tak ada tempat baginya untuk menangis dan mengadu. Bertemu dengan orang-orang bernasib sama. Di kelas VII SMP mulai mencuri demi memenuhi kebutuhan yang tak terpenuhi oleh ibu dan ayahnya termasuk kebutuhan makan. Mencuri uang dan terlilit hutang. Selanjutnya berkenalan dengan dunia kriminal, berkelahi, mencuri, menggunakan senjata tajam untuk berkelahi. Dan pada akhirnya terjerumus pada narkoba dan seks bebas.
Sekali lagi tak ada tempat baginya mengadu. Tak ada tempat dimana jeritan hatinya bisa terdengar. Tak ada tempat baginya mendengar petuah kebaikan. Kehidupan macam apa yang ia jalani. Lingkaran setan yang tak ada ujung. Ia terlibat dengan kepolisian, ditahan selama 2 minggu di kepolisian. Tak ada tempat baginya kembali. Masyarakat sekitar lingkungannya tak memberinya ruang untuk tinggal. Kecaman, ancaman, sindiran, cibiran adalah makanannya sehari-hari.
Keluarga? Tak banyak membantu. Hanya sang adik tempatnya berkasih sayang. Namun sayang, Tuhan bekehendak lain. Sang adik kembali ke haribaan Tuhan lebih dulu. Hilang sudah sumber kasih sayangnya. Hingga akhirnya ia datang ke balai rehab untuk berlindung dan mengubah kehidupan.
Di balai rehab ia merasa  menemukan orang yang memberinya kasih sayang. Ia menemukan orang yang mau peduli padanya. Mau membimbingnya menjadi lebih baik.
Deg. Pada titik ini aku tersadar. Aku seorang konselor. Seperti itulah aku seharusnya. Menaruh kepedulian terhadap anak-anak terluka ini. Dengan tulus. Dengan tulus. Sekali lagi dengan tulus dan SEPENUH HATI. Aku bertanya-tanya dan berpikir, beginikah Tuhan mengatur kehidupan? Ia gariskan nasib sedemikian rupa kepada anak itu agar kami yang bertekad menjadi konselor benar-benar belajar untuk berbagi dan peduli. Tak layak menyebut diri ini sebagai calon konselor jika menutup mata dan tak mau tahu dengan keadaan anak ini. Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk saling melengkapi satu sama lain.
Apakah jalannya mudah? TIDAK. Aku bisa katakan tidak. Kepedulian dan kelayakan untuk disebut calon konselor tak mudah. Dan yang namanya UNCONDITONAL POSITIVE REGARD benar-benar diuji. Aku belajar dari 3 orang adik-adik asuhku. Hari ini mereka baik, besok bermasalah, besoknya lagi baik, besoknya lagi bermasalah. Kecewa? Jelas. Muncul rasa tak peduli? Jelas. Merasa apa yang kita lakukan tak berguna? Tak berhasil? Jelas. Merasa hatimu dibolak balik? Iya. Namun tekadku untuk menjadi seorang konselor menyadarkanku kembali bahwa disinilah prosesnya. Tak seperti di sekolah yang anak-anaknya cukup mudah dibimbing. Anak-anak ini berbeda. Tapi inilah mereka yang disebut bermasalah dan diperlukan intervensi ke arah kebaikan. Bingung? Jelas. Aku merasa ilmu ku sangat lah kurang. Namun aku sadar bahwa anak-anak yang terluka ini memiliki kesamaan. TAK ADA TEMPAT UNTUK MEREKA BERBAGI DAN DIDENGAR. See? Bukankah tempat berbagi dan mendengar itu adalah seorang konselor? Yang memiliki KDK? Yang memiliki unconditional positive regard? Lalu bagaimana kita seharusnya memposisikan diri? Dan kenapa kita menjadi begitu cepat menyerah? Merasa bahwa masalah kita juga banyak, dan hanya membuang-buang waktu jika peduli terhadap mereka?
Konselor. Profesi yang dalam perkuliahan menjadi bahan perdebatan dengan segala problematikanya. Disinilah tempat belajar yang sesungguhnya. Menghadapi klien yang sesungguhnya. Ada di depan mata. Hanya hal kecil sebenarnya. Namun efeknya luar biasa. Peduli dan mau tahu. Merasa bahwa mereka adalah bagian dari kita. Lalu kenapa kita tak menyempatkan diri untuk peduli? Bukankah Khoirunnas anfauhum linnas? Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya? Bukankah Allah menyukai orang-orang yang apabila ia bekerja ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik?
Note: tak banyak orang mau untuk peduli.
Catatan kecil dari pengalaman magang bersama kawan-kawan BK UNNES 2011.
(Aida Nisviatul L.M, Septa Nikmatil Aliya, Eva Yuni Prastiti, Tri Widyowati, Moch. Khakam As’ad, Hari Nugroho, Kamaluddin Reza Sauqi, Ayyub Indra Syafi’I, Bobby Ardhian Nusantara)

Sabtu, 20 Desember 2014

sisi menarik dari kehidupan manusia adalah cinta. betapa cinta bisa mengubah segalanya dalam hidup manusia. cinta. ia punya dua sisi. happiness and sadness. ia bisa menguatkan dan iapun bisa melemahkan.
ada satu hal yang terjadi ketika manusia dilanda cinta dan didera sakit cinta. menjaga kewarasan. jika tidak, alhasil ia akan seperti orang gila.
mereka yang kuat dalam perjuangan cintanya tentunya didukung oleh banyaknya informasi di sekelilingnya yang menjaganya tetap waras. interaksi dengan orang-orang di sekelilingnya yang membuatnya bisa berpikir, dan komunikasi intensif dengan orang yang dipercaya. ini trik menjaga kewarasan ketika dilanda cinta.

Senin, 12 Mei 2014

Letter from Ayu



Dear my lovely friend, Uzwatun Khasanah (Suri tauladan yang baik)…… <3
Ini tulisan yang aku janjikan buat kamu, dikutip dari buku Salim A. Fillah “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” halaman 222.

Dalam sebuah seminar muslimah di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir UII, saya diberi kehormatan mendampingi Ustadzah Herlini Amran, MA. Dalam kesempatan itu beliau memberikan paparan tentang persiapan pernikahan. Beliau menyampaikan tujuh item, yang saya rasa bisa dirangkum menjadi lima hal saja. Nah persiapan pernikahan adalah:
1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggungjawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumah tangga.
2.    Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah menata rumah tangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orang tua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.
3.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada wanita misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi laki-laki. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.
4.    Persiapan Maaliyah (Material)
Kalau ini, tuntutannya adalah berpenghasilan, bukan bekerja. Minimal ada komitmen ke arah itu dan mampu memberi mahar. Lalu disempurnakan dengan kecerdasan finansial, menangkap peluang, mengelola sumberdaya, dan menata anggaran.
5.    Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi misi da’wah di lingkungannya.
Nah ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?
Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.
wahai sekalian pemuda, barangsiapa dari kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan Farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.(HR Bukhari dan Muslim)

Hanya ada satu paameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalah penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan, yakni kemampuan jima’.
Maka kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’I, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qardhawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.
Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut mrnikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah Anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi. An Nasa’I, dan Ibnu Majah)

Di milis yang saya sebut di atas, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan Ustadz Abu Hasna lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.
Kata Umar Ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan InsyaAllah jantan. Cuma, banyak ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.
Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menfkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjawab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada istri yang halal dinikmati (ups!) Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

maka aku katakan kepada mereka: “ beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. “ (Nuh 10-12)

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’I, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)

Senin, 10 Maret 2014



Teruntuk Saudariku Uswatun Tercinta.....
Melalui tulisan ini aku hanya ingin menitipkan pesan bahwa semua yang kamu lihat dari diriku bukanlah sesuatu yang bisa dijabarkan dengan kata-kata atau lewat tahapan tips-tips melakukan sesuatu. Jika kamu menanyakan padaku cara agar inner beauty dan aura positif bisa terpancar (karena itu yang kau lihat)seperti diriku (sesuai yang kamu katakan, percayalah bahwa itu semua adalah imbalan dari Allah yang tak pernah aku sadari dan tidak aku ketahui karena memang dirimu yang melihtnya. Namun aku merasa sangat terhormat dan berterima kasih atas pujianmu J. Namun jika saja dirimu tahu, itu semua tidak aku peroleh melalui zona yang menyenangkan, aman , dan nyaman. Hidupku, pengalamanku, pemikiranku di sini tidak selalu berada pada posisi “menyenangkan” dan “menguntungkan”. Pengalamanku di sinilah yang membentuk diriku menjadi seperti yang kau lihat. Harga yang harus dibayar dengan pengorbanan, pengorbanan tenaga, waktu, materi, dan perasaan untuk amanah yang dihadapkan padaku. Aku dihadapkan dan dibenturkan pada berbagai persoalan dan permasalahan yang menuntut dan menguras energi penghabisan, pemikiran terdalam, perasaan paling dalam yang mengaduk-aduk dan membolak balik kehidupanku. Konflik pribadi, amanah, kuliah, bahkan konflik dengan teman serta saudara seiman itulah yang membesarkanku. Jujur ku katakan itu semua berat, dan teramat berat untuk ku hadapi sendirian. Air mata sudah tak terhitung berapa kali tertumpah untuk segala hal yang menyedihkan, membakar emosi, bahkan untuk hal membuatku mengharu biru. Rasa sakit tak terhitung berapa kali ku alami dan harus kutemukan obatnya di dalam diriku sendiri. Tapi..itulah yang membuatku besar, sayang. Jika aku menyerah dan kalah aku hanya akan menjadi seorang pecundang. Namun, aku memilih bertahan, melawan dan berkeyakinan bahwa aku bisa menghadapi semua itu. Aku tahu masih ada Allah yang membantuku, ibu dan bapak yang menaruh harapan di pundakku, saudara-saudari dalam ikatan ukhuwah yang menguatkanku. Itu alasan aku bertahan dan melawan. Menyerahkan semuanya pada kehendak takdir yang pasti baik untukku.
Pengalaman yang membesarkanku, kenyataan yang aku hadapi yang menguatkanku. Aku belajar dari orang-orang di sekelilingku karena bagiku mereka semua adalah guru, termasuk dirimu yang aku bisa belajar banyak darinya. Selalu bersyukur dan berpikiran positif terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun hal itu nampak amat buruk. Mungkin itulah yang memancarkan aura positif dalam diriku seperti yang kamu katakan. Ingatlah sayang, itu semua tidak mudah, tak sekedar tips dan trik yang diprosedurkan, tak semudah diucapkan lewat kata-kata. Pertempuran melawan dirimu sendirilah yang membentuknya.
Pesanku untukmu, janganlah melihat seseorang hanya pada keindahan luarnya, percayalah setiap keindahan itu diperoleh melalui jalan panjang yang terjal dan menguras kekuatanmu. Ingatlah untuk selalu bersyukur dan mengambil makna positif dalam setiap takdir atau peristiwa yang ditimpakan Allah padamu sekalipun itu amat kau benci dan tak kau sukai. Jika dirimu merasa paling menderita, lihatlah ke bawah dan kau akan bersyukur. Jika kau merasa putus asa, lihatlah ke atas, masih ada harapan di sana. Tetaplah untuk berprasangka baik terhadap Allah karena Dialah sang Maha Adil dan pengatur terbaik untuk kehidupanmu. Ambillah makna positif dari suatu peristiwa sekalipun peristiwa yang menimpamu tampak amat sangat buruk.
Pesan ini mungkin terlalu mudah untuk dikatakan tapi akan sangat sulit ketika kau jalani. Dan di situlah letak tantangannya. Jika kau kalah dengan kehidupanmu maka kau akan keluar sebagai pecundang dan jika kau menang maka kau akan menjadi pahlawan untuk pikiranmu, hatimu, dan jiwamu.  
Bersyukurlah dan selalu bersabar karena “boleh jadi kau membenci sesuatu tapi itulah yang terbaik dari Allah untukmu dan boleh jadi kau menyukai sesuatu tapi itu tak baik untukmu”. Itulah cara Allah menguji ketetapan hatimu akan kepercayaanmu padaNya. Dan aku pun masih belum lulus ujian kehidupan itu. Aku masih berproses untuk menjadi lebih baik sebagaimana dirimu yang masih berproses melaluikehidupanmu. Percayalah hidup itu tak selamanya mudah dan indah, namun jika kau selalu mengambil makna terindah darinya maka hidupmu akan selalu indah menghiasi dirimu.
Jika lama tak menghubungimu bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya sedang mempersiapkan diriku agar nantinya ketika berjumpa denganmu aku berada dalam kondisi yang bisa membahagiakanmu. Percayalah bahwa aku selalu mengingatmu dan tak pernah melupakanmu karena kamu adalah bagian dari kehidupanku.
Inilah jawabanku atas pertanyaanmu.

Saudaramu yang masih berjuang mengambil Salsabila kehidupan,
Ayu ^_^

Senin, 10 Februari 2014

UNGKAPAN RINDUKU UNTUKMU SAUDARAKU



Kalo surat cinta nanti dikira buat bu Any Yudhoyono yaaa, jadi ini surat rindu aja deh namanya, check this out! Happy reading :)

Merindu boleh kan ya?
Sungguh q merindukan kalian semua keluarga abadi,
Masa-masa yang sulit dilupakan bersama kalian dan mungkin g akan prnah bisa terganti,
Suasana kebersamaan yang hanya bisa dinikmati bersama kalian,
Ungkapan rindu itu hanya bisa q ungkapkan melalui tulisan ini,
Semoga saja kalian bisa menemukan dan membaca tulisan ini (jika Allah menghendaki) heee… J
Jikalau boleh jujur, sebenarnya amat sangat berat bagi saya mengakhiri kebersamaan dengan kalian di Kerajaan BEM FIP 2013. Setelah didemisionerkan, serasa ada sesuatu yang hilang dalam potongan hidup saya. Yaaah mungkin ini yang namanya post power syndrom J. Seketika terjadi kebingungan dalam diri saya, kemana saya harus melanjutkan semangat berkarya saya…..meskipun pada akhirnya setelah melalui pertimbangan yang sangat panjang, saya memutuskan untuk mendaftar di BEM KM Unnes. Jujur, saya takut saya tidak akan menemukan aura yang kita bangun selama periode BEM FIP 2013 di sana. Itu tempat yang sangat asing bagi saya. Sedangkan jika tetap di fakultas, saya pun takut akan melawan diri saya sendiri. Melawan kejenuhan yang mungkin akan memberikan aura gelap di BEM Fakultas. Namun toh, pada akhirnya saya kembalikan semuanya pada Yang Maha Membolak-balikkan hati agar Ia meneguhkan kembali niat di hati ini untuk tetap berkarya.
Mungkin sedikit mengenang kilas balik perjalanan saya di kerajaan BEM FIP 2013 akan sedikit mengobati rindu di hati ini dan membangkitkan kembali semangat juang itu. Berawal dari sosok yang tak akan pernah saya lupa seumur hidup saya. Sosok yang entah dia sengaja atau tidak, disadari atau tidak, dialah yang membuat saya membangunkan jiwa yang tertidur oleh sifat pemalu dan pendiam menjadi berani menampilkan diri dan cenderung cerewei ini. Sehingga ahkirnya saya tahu dimana letak kekuatan saya. Sosok yang menurut sebagian orang adalah konyol dan hanya bisa menyuruh namun tidak cakap dalam teknis. Namun karena kekurangannya itulah yang membuka jalan bagi orang lain untuk menampakkan kelebihannya. Terima kasih padamu yang sudah membiarkan saya dibuang di departemen PSDM pada tahun 2012. Terima kasih selalu memberikan kejutan bagi saya dengan tugas-tugas di kepanitiaan seminar nasional yang lumayan mendadak dan menimbulkan kesemrawutan. Namun jika dipikir kembali itulah jalan awal bagi saya untuk belajar lebih baik lagi, dan mengenal satu sifat dalam diri saya yaitu suka protes terhadap hal-hal yang tidak mendetail sehingga dirimu menyebut saya cakap dalam bidang pendetailan sistematis. Terima kasih sudah memaksa saya menjadi panitia inti PKMM-TD 2012. Terima kasih telah mencemplungkan paksa saya di kepanitiaan KPU 2012. Terima kasih untuk semua kesempatan itu, yang menjadikan saya akhirnya bisa terlihat kemampuannya dan dipercaya oleh sang Raja BEM fip 2013 untuk menjadi sekertarisnya. Terima kasih untukmu ibu suri Nhanah yang selama satu periode 2013 sudah mau menjadi tong sampah saya, mendengarkan keluh kesah saya, mendengarkan setiap tangisan saya ketika hati ini sudah tidak mampu menahan beban yang terlalu berat selama menerima amanah di kerajaan, terima kasih atas pembelajaran yang entah dirimu sadari atau tidak selalu kau berikan di setiap kebersamaan kita. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih untukmu. Semoga Allah selalu memudahkan setiap urusanmu. Cepat kelar ya maak skripsinya. Ingat dirimu masih punya hutang mimpi yang kita sematkan bersama-sama di pohon mimpi bersama idun dan tumee. Dan satu lagi semoga harapanmu terwujud mak untuk mendapatkan mahar seperangkat alat mendaki… J J J
Thank kyu so much untukmu juga Baginda Raja Syarif. Saya tahu sesungguhnya amat berat bagimu menerima amanah sebagai Raja di BEM FIP 2013. Pertama-tama maafkan saya jika dirimu merasa terganggu dengan segala ocehan, kritik, dan setiap bentuk protes dari saya selama menjadi Raja. Sungguh, jika saya menjadi dirimu, saya pun belum pasti mampu mengemban amanah itu dengan baik. Maafkan saya atas segala kata-kata yang terucap lewat lisan saya yang tidak berkenan di hati bahkan cenderung menyakitimu. Dan terima kasih atas kelegowoannya dalam mendengarkan setiap celoteh saya, entah itu mengenakkan atau tidak di hatimu. Terima kasih sudah mau mendengar saya dengan baik. Terima kasih atas kepercayaan yang sudah diberikan kepada saya untuk menjadi bagian dari pilar penopang tegaknya Kerajaan BEM FIP 2013. Semoga Allah memudahkan setiap urusanmu. Kuliahnya jangan dilupakan yaaa…karena ia juga termasuk ladang perjuangan yang engkau pun perlu menggarapnya dengan baik.
Tidak akan pernah terlupa juga dalam perjalanan hidup saya terutama selama di kerajaan, hadirnya dirimu sahabatku, saudaraku seperjuangan. Darimu saya belajar banyak hal, dari kehidupanmu, dari segala kelebihanmu dan dari segala kekuranganmu. Terima kasih untuk tetap berusaha tegak meskipun berkali-kali engkau jatuh. Terima kasih untuk masih mau mendengar saya sekalipun engkau tidak menyukainya. Terima kasih pada dirmu yang membuat saya menjadi setegar karang di saat semua hal nampak jauh dari saya. Terima kasih telah membuat saya menjadi pribadi yang mau mengerti dan memahami lebih kondisi dan keinginan orang lain. Terima kasih sudah mau berbagi dengan saya. Terima kasih untukmu saudara abadi, Septa Aliya. Semoga engkau selalu dalam limpahan rahmat Allah. Ingatlah engkau memiliki diriku dan aku ada untukmu. Tetaplah menjadi bagian dari penopang kekuatanku. J
Tak lupa juga saya sampaikan terima kasih untuk kalian sumber pembelajaran dalam hidup saya dengan keberadaan kalian di Kerajaan BEM FIP 2013. Alpin Ceplin yang darinya saya belajar untuk tak pernah mengeluh dan bekerja beres tanpa banyak bicara, idun madun yang membuat saya merasa sebagai kakak yang berarti, terima kasih mau berbagi dengan saya, sosok yang bisa diandalkan dan satu2nya laki2 yang tidak malu untuk menangis,,,semoga kamu menjadi orang yang luar biasa keren duuun J, dede ela yang darinya saya belajar untuk sedikit konyol sehingga setiap keberadaannya selalu dinanti da bisa menghibur orang2 di sekitarnya, de cinta resti yang amat sabar dan mau welcome dengan keberadaan saya secara tulus, dede isna sang superwoman, terima kasih untuk tetap bertahan dan mau belajar dengan sabar di tengah orang2 yang tidak sepenuhnya mendukung ketika kamu mengemban amanah, saya yakin kamu akan jadi sosok yang luar biasa nantinya,,,dede cocol dengan pembawaannya yang stay cool meski apapun kondisinya (itu yang saya lihat, heee..jangan diprotes yaa J), innduul stev terima kasih sudah membawa keceriaan paud nya selama di bem fip 2013, dede racie izumy yang darinya saya bisa belajar kalem ala solo dan selalu menghormati orang yang lebih tua, saya suka caranya andhap asor,,dede farel yang mengejutkan, walaupun di luar terlihat tidak bersemangat tapi sekali kerja sangat bisa diandalkan, dede dinaa dengan gaya ceplas ceplosnya yang bukin gemes, dede budi yang super kreatif dan seharusnya tukeran jurusan sama zen,, hehe makasih udah membuat saya merasa dipercaya dengan mau terbuka sama saya, dede dewi yang masih malu2 dan pendiem kadang2 menarik perhatian saya J, dede rike juga kdang masih malu2,,,tapi kamu keren de dengan keahlian desain kamu, kadang2 juga polosnya bikin gemes, huhu, dede zen makasih banget buat kesempatan bikin kita2 narsis dalam berbagai pose, semoga keahlian fotografinya semakin berkembang dan gadgetnya makin lengkap (itung2 bisa disewa buat fotografer nikahan juga, hehe J, oiya harusnya kamu tukeran sama dede budi J), dede khusnul yang paling polos diantara yang laen, baiik banget, trus suka bikin orang ketawa karena kepolosannya, juga yang paling pinter ngutik2 duit,, (the next septa…J) hehe, dede adzimah yang punya semangat belajar yang tinggi, mau bekerja keras meskipun kadang jadi rempong sendiri, lucu deh kalo lagi liat dede bingung.. J,  dede adel yang masih malu2 juga kalo punya ide,, ayo de kamu pasti bisa jadi orang keren, jadi sampaikan ide2 dan uneg2 apa yang ada di pkiran kamu agar orang mengerti apa yang kamu inginkan J, bapak faisal terima kasih juga, saya yakin bapak adalah orang keren di masa depan, jadi tetaplah berkarya dengan positif dimanapun bapak berada, keras kepalanya dikurangi ya paaak,,,dicky, shifa, hady terima kasih juga udah mau bergabung dalam keluArga BEM FIP 2013,, aaaah kebersamaan dengan kalian itu rasanya tak rela bila harus segera diakhiri…
Terima kasih juga buat bapak2 menteri, selama kebersamaan dengan kalian saya bisa belajar banyak hal, bapak menteri amrina cantik yang selalu stay cool kalo lagi punya masalah sampai2 kita g nyangka kalo lagi kena musibah tapi juga sekaligus joroknya itu lho g ketulungan..hahaha, bapak menteri alis tebal (mas irpan) yang cukup wise lah yaa nyikapin segala hal, tapi kadang nyebelinnya minta ampun kalo diajak ngomong,,J, bapak menteri ramdhano stevano kampreto, Anda orang yang paling stand by kalo dimintain pertolongan, sumpah pak semoga rahmat Allah selalu melimpah padamu, walaupun ujiannya banyak banget tapi saya yakin bapak ditakdirkan jadi orang keren dengan karakter bapak, makasih udah mau jadi bagian dalam keluarga kerajaan BEM FIP 2013 dan mau bertahan sampai akhir meskipun kadang balasan yang baak dapet dari kita g sebesar dan sememuaskan seperti yang bapak berikan untuk kita.. J J J, bapak menteri Cez Farhan yang keren banget dengan public speaking dan tulisan2nya meskipu kadang jadi krik2 kalo lagi bercanda, saya yakin pak Anda bakal jadi orang super hebat di masa depan nanti, semoga karakter baik selalu menyertai bapak dimanapun bapak diamanahi J, bapak menteri aris munandar yang super perfeksionis dengan ide2 segarnya, itu mood dijaga ya pak biar g fluktuatif pas dibutuhin, apalagi sekarang amanahnya udah ganti jadi lebih besar, semoga bapak sukses di ladang perjuangannya yang baru yaa….aaah pokoknya g cukup kata deh buat melukiskan betapa kerennya kalian di mata saya,,,tidak salah jika Baginda Yang Mulia Syarif memilih kalian jadi menterinya.. J J J J J
Tidak lupa juga saudara-saudara saya yang di Ngaliyan, bang Darul, Mak Tumee, dede Vina, Rahma “Syahrini”, kakak Kresna Biru, Dede Angga, Candra, dede Avis “Peri Kecil”, dede Elmy, Dede Hesti, Twin Twinia…makasih atas kebersamaan kita selama ini, semoga tidak terputus sampai disini saja tapi akan berlanjut sepanjang hayat kita. Kebersamaan dengan kalian adalah anugrah tersendiri untuk saya, menambah daftar saudara saya dan memperpanjang tali silaturahim saya. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari BEM FIP 2013. Maafkan jika sambutan kami yang di Sekaran tidak melegakan hati kalian, dan kami jarang sekali mengunjungi kalian ke Ngaliyan, karena itulah wujud kekurangan kami sebagai manusia. Semoga kalian jadi orang2 keren dan hebat di masa depan nanti dan jangan lupakan bahwa kita tetap bersaudara meskipun jarak memisahkan kita. Selamat berjuang di ladang perjuangan yang baru untuk bekal menggarap ladang penghidupan yang baik nantinya. J J J J
Dan teristimewa untuk saudara-saudaraku yang jauh di Tegal sana, dede Lilis, Kiki Kinur, mas oni, bang hapid, dede rio, bang dika, dede evie, Isna Nur, dede Pipit, kakak Upi, dede dinar, terima kasih, so many thank kyu buat kalian semua udah mau mendedikasikan diri untuk jadi bagian dari pejuang penopang tegaknya BEM FIP 2013. Meskipun jarak menjadi penghalang untuk kebersamaan kita, tapi adanya kalian dari bagian keluarga ini sangat berkesan terutama untuk saya. Terima kasih atas semua sambutan istimewa yang kalian berikan ketika kita di sana, dan maafkan apabila sambutan yang kami berikan di sini tidak seistimewa dan seindah yang kalian berikan seperti apabila kami di sana, karena itu adalah bagian dari kekurangan kami juga sebagai manusia biasa. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk kalian semua. Kalian adalah orang-orang keren dan hebat. Dahsyat lah pokoknya. Kelak di masa depan jangan lupakan bahwa kita tetaplah saudara dan keluarga, semoga kalian bisa meraih mimpi2 terindah kalian di masa depan. Selamat berkarya di ladang perjuangan selanjutnya. J J J
Akhirnya izinkan saya menulis ini untuk kalian……………..
untukmu pewaris peradaban negeri
terima kasih telah menjadi bagian dari pilar penopang tegaknyA bangsa
semoga jiwa "semangat berkarya" tetap menyala di ladang perjuangan berikutnya.... J J
                                                        "BEM FIP 2013"

Dan sebuah lagu untuk kalian dari Coboy Junior “Terhebat”
Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau inginkan
Hanya perlu memulai untuk menjadi hebat raih yang kau impikan
Seperti singa yang menerjang semua rintangan
Kamu kamu kamu terhebat.. J J J
 
Copyright (c) 2010 I'm a Counselor and Powered by Blogger.